Ketahanan Polypedilum vanderplanki terhadap kondisi kering ekstrim

Hingga saat ini, Polypedilum vanderplanki masih dinobatkan sebagai serangga yang paling tahan terhadap kekeringan.

Pada tahun 1951, Hinton menemukan larva seekor agas (Diptera: Chironomidae) di beberapa wadi kecil di kawasan agak bergurun Afrika bagian tengah yang meliputi Nigeria, Uganda dan Malawi yang hanya menerima curah hujan selama empat bulan. Selanjutnya, ia menemukan fakta bahwa larva ini mempunyai kemampuan adaptasi yang unik dan luar biasa, yaitu sanggup hidup pada kadar air tubuh kurang dari 3%! Selanjutnya, penelitian Hinton pada tahun 1960 menyebutkan fakta yang lebih mencengangkan, yaitu bahwa beberapa larva serangga ini mampu meneruskan metamorfosis setelah dipapar panas setinggi 102-104°C selama 1 menit, sementara beberapa larva yang lain sanggup hidup beberapa waktu setelah dipapar panas hingga 106°C selama 3 jam atau 200°C selama 5 menit. Bahkan Hinton juga mencatat bahwa setelah dicelupkan ke dalam cairan Helium yang mempunyai suhu -270°C selama 5 menit,  larva ini masih sanggup bertahan hidup! Hebat bukan? Serangga yang diberi nama Polypedilum vanderplanki Hinton 1951 (untuk menghormati jasa Hinton yang mempelajari serangga ini untuk pertama kalinya) kemudian dinobatkan sebagai serangga paling hebat yang mampu beradaptasi terhadap suhu dan kekeringan ekstrim.

Mekanisme toleransi terhadap kondisi kering ekstrim

Kita semua mempunyai pertanyaan yang sama melihat fenomena di atas, yaitu bagaimana organisme-organisme tersebut “menyetel” tubuhnya untuk beradaptasi terhadap kondisi lingkungan yang sangat ekstrim?

Larva Polypedilum mempunyai strategi yang unik untuk mengatasi kekeringan di sekitarnya dengan membuat sarang berbentuk pipa yang terbuat dari lumpur dan dicampur dengar liurnya yang lekat. Kikawada et al (2005) menjelaskan bahwa tabung ini setidaknya mempunyai tiga fungsi. Pertama, tabung ini memungkinkan larva memperoleh oksigen dan makanan yang didapatkan melalui aliran air yang mengalir melalui pipa ini, karena larva menghasilkan aliran air di dalam pipa melalui gerakan tubuhnya. Kedua, pipa ini berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap serangan musuh alami. Ketiga, pipa ini juga berfungsi sebagai pelindung larva terhadap paparan bahan-bahan kimiawi.

Selanjutnya, para ahli setuju untuk menunjuk trehalose sebagai salah satu “senjata” bagi organisme-organisme tersebut untuk mempertahankan diri terhadap kondisi miskin air (anhydrobiosis). Watanabe (2006) menjelaskan bahwa trehalose adalah disakarida yang dapat disintesis oleh organisme, termasuk invertebrata, yang mempunyai kemampuan tinggi untuk mengikat air, sesuatu yang amat dibutuhkan oleh organisme yang hidup di wilayah yang amat kering. Kikawada et al (2005) membuktikan pula, bahwa gabungan antara tabung lumpur dengan kandungan trehalose di dalam tubuh adalah kunci sukses bagi di larva untuk “hidup kembali”, ketika air mulai tiba.

Pustaka

  • Crowe, J.H. & K. A. C. Madin. 1975. Anhydrobiosis in nematodes: Evaporative water loss and survival. Journal of Experimental Zoology 193: 323-333.
  • Hinton, H. E., 1960. A fly larva that tolerates dehydration and of temperatures of -270 °C – 102 °C. Nature 188: 333-337.
  • Kikawada, T., N. Minakawa, M. Watanabe, & T. Okuda. 2005. Factors inducing successful anhydrobiosis in the African chironomid Polypedilum vanderplanki: Significance of the larval tubular nest. Integrative and Comparative Biology 45: 710-714.
  • Watanabe, M., 2006. Anhydrobiosis in invertebrates. Applied Entomology and Zoology 41: 15-31.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s