Entognatha: Heksapoda yang bukan serangga

Pada umumnya, mahasiswa akan menyatakan bahwa heksapoda itu adalah artropoda berkaki enam atau serangga, atau heksapoda sama dengan serangga. Jika dinyatakan bahwa serangga adalah heksapoda, maka hal ini benar. Namun, jika dibalik, yaitu bahwa heksapoda adalah serangga, maka pernyataan tersebut menjadi keliru. Nah, lalu bagaimana sebenarnya kedudukan heksapoda, serangga, dan artropoda berkaki enam?

Kedudukan taksonomik dan ciri biologi Entognatha

Di dalam filum Artropoda, Entognatha dimasukkan ke dalam klas tersendiri, sesuai namanya. Dan bersama dengan Klas Insecta (serangga), Entognatha adalah anggota subfilum Heksapoda (artropoda berkaki enam).

Klas Entognatha mencakup tiga ordo, yaitu Protura, Diplura, dan Collembola (ekor pegas) yang kebanyakan hidup di dalam tanah, dan berperan sebagai pemakan bahan organik (detritivora). Oleh karena itu, keberadaan mereka di lingkungan sangat bermanfaat. Para ahli juga sering menggunakan keragaman kelompok heksapoda ini untuk menentukan kualitas kandungan bahan organik tanah, maupun sebaliknya, kandungan bahan cemaran.

Ciri utama dari Entognatha adalah perangkat alat mulut yang tidak tampak jelas dari luar  jadi terkesan tertarik ke dalam atau tersembunyi di dalam rongga kepalanya. Entognatha sendiri berasal dari kata ento– yang berarti di dalam, dan –gnatha yang berarti rahang. Ciri lain adalah bahwa semua heksapoda entognatha tidak bersayap (tuna sayap).

Ordo Protura. Protura berasal dari kata “proto-” yang berarti pertama atau awal, dan “-ura” atau ekor, merujuk pada tiadanya bangunan atau alat yang terdapat pada ujung abdomen seperti layaknya artropoda lain.


Eosentomon dawsoni (Protura) (massey.ac.nz)

Heksapoda ini dicirikan oleh tubuhnya yang  pucat; tidak mempunyai mata dan antena sebagaimana layaknya artropoda lain; kepala berbentuk mirip kerucut. Sepasang kaki depannya diduga berfungsi sebagai alat peraba. Sepanjang pertumbuhan dari nimfa awal hingga dewasa, Protura melewati lima instar melalui proses yang disebut anamorfosis, yaitu menambahkan jumlah abdomen sampai total 11 ruas pada setiap instarnya. Stadia maturusadalah stadia di antara nimfa dan imago (dewasa), dan pada stadia ini, jumlah ruas abdomennya sudah mencapai 11.

Artropoda yang berukuran kecil (panjang tubuhnya kira-kira 0,5 – 2,0 mm) ini hidup di dalam bahan-bahan organik dan memakan cendawan mikoriza, bahan-bahan tumbuhan yang membusuk dan sejenisnya. Oleh karena itu, para ahli menduga bahwa heksapoda ini penting dalam proses perombakan bahan organik.

Ordo Diplura. Nama Diplura berasal dari bahasa Yunani, diplo– yang berarti dua, dan –uros yang berarti ekor. Perhatikan gambar di permulaan tulisan ini di halaman 22. Anda bisa melihat dua “ekor” yang tumbuh dari ujung abdomennya, yang sebenarnya adalah cerci.


Diplura (en.wikipedia.org)

Panjang tubuh heksapoda ini kira-kira 2-5 mm, meskipun genus Japyx dapat mencapai panjang tubuh 20 mm. Sama seperti pada Protura, Diplura tidak mempunyai mata dan tubuhnya tidak berwarna. Diplura mempunyai antena yang cukup panjang, terdiri dari 10 atau lebih ruas yang berbentuk bulat seperti manik-manik.

Ordo Diplura terdiri dari 10 famili, dan kebanyakan spesiesnya hidup di dalam tanah yang lembab, di bawah seresah sisa tumbuhan atau humus. Kebanyakan spesies Diplura adalah pemakan, sekaligus perombak bahan organik, meskipun beberapa kelompok, misalnya anggota famili Japygidae, dikategorikan sebagai predator pada Collembola, isopoda, dan artropoda kecil yang lain.

Ordo Collembola. Nama ordo ini berasal dari gabungan kata Yunani cole– yang berarti lem atau perekat, dan –embolon yang berarti pasak.  Collembola tidak bersayap, mempunyai sepasang antena, tiga pasang kaki, dan beberapa mempunyai mata yang terdiri dari ommatidia. Beberapa jenis Collembola tidak bermata.


Dicyrtomina ornata (flickriver.com)

Kebanyakan Collembola, meskipun tidak semuanya, mempunyai alat pelenting yang disebut furca, yang tumbuh dari bagian ujung abdomennya. Mekanisme kerja furca ini unik, yaitu bila tidak dipakai, maka bagian ujungnya akan menjepit sebuah “tonjolan” yang disebut colophore. Ketika penjepit ini dilepaskan, maka alat pelenting ini akan melentingkan tubuh collembola. Oleh karena itu, collembola disebut juga Ekor Pegas.

Bentuk tubuh collembola bervariasi. Poduromorpha adalah collembola yang hidup meliang di dalam tanah, tubuhnya buntak, mempunyai antena pendek, dan kaki-kakinya pendek. Sementara itu, collembola Entomobryomorpha mempunyai tubuh yang lebih panjang, langsing, dengan kaki-kaki dan antena yang lebih panjang. Kelompok collembola ini kebanyakan hidup di atas permukaan tanah (di bawah seresah).

Collembola ternyata sudah digunakan oleh para ahli untuk mendeteksi polusi tanah. Collembola diketahui peka terhadap herbisida. Potensi ini cukup layak untuk diteliti, terutama untuk pengelolaan lingkungan yang aman dari benda berbahaya.

Peran Entognatha di alam

Hingga kini, kelompok artropoda Entognatha ini diyakini mempunyai peran yang cukup penting di lapangan. Dalam kaitannya dengan dunia pertanian dan keamanan lingkungan, maka penelitian dinamika populasi kelompok artropoda ini menjadi penting untuk menjamin keberlangsungan rantai makanan di alam. (NSP/ dari berbagai macam sumber).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s