Nugroho Susetya Putra

Liriomyza sp: Pengorok daun berinang banyak

In Mei 2011 on April 14, 2012 at 12:03 am

Lalat Pengorok Daun genus Liriomyza pernah menghebohkan Indonesia dengan serangan-serangan yang fatal pada tanaman sayuran di beberapa daerah, di antaranya Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatra Utara, Bali, dan Lombok. Empat spesies Liriomyza ditemukan di Indonesia, yaitu L. huidobrensis, L. trifolii, L. katoi, dan L. yasumatsui.

Liriomyza termasuk serangga yang mudah beradaptasi terhadap cekaman lingkungan, misalnya suhu. Itulah sebabnya mereka mempunyai daerah ‘jajahan’ yang cukup luas. Ditambah dengan kisaran inang yang cukup luas, mereka segera berkembang menjadi hama serius pada beberapa tanaman penting. Strategi reproduksi bertipe-r diduga menjadi salah satu modal terbesar dari lalat pengorok ini untuk mudah berkembang dan beradaptasi di alam.

Siklus hidup. Telur lalat membutuhkan waktu sekitar tiga minggu untuk mencapai tahap imago. Telur yang berwarna putih keruh ditanam satu per satu pada epidermis atas atau bawah daun. Larva lalat yang tidak berkaki (apoda) akan muncul 2 – 4 hari kemudian, dan segera membor epidermis untuk masuk ke dalam daging daun. Setelah tiga hari, larva akan berubah menjadi pupa yang berbentuk tong, membulat panjang, dan berwarna coklat muda. Lalat mudah dikenali dari warna tubuhnya cerah, yaitu gabungan warna kuning, hitam, dan putih (lihat gambar).

Liriomyza trifolii (agraria.org)

Cara merusak. Nama ‘leafminer’ atau ‘pengorok daun’ berasal dari cara makan larva pada daging daun, di antara epidermis atas dan bawah daun. Tanda serangan larva lalat pengorok ini cukup khas, yaitu berupa ‘jalur’ korokan berbentuk guratan-guratan berwarna perak. Pada serangan berat, guratan tersebut hampir merata di helaian daun, yang berarti juga mengurangi sel-sel hijau daun. Akibatnya mudah ditebak, tanaman akan sulit tumbuh karena proses fotosintesis terganggu.

Liang korokan Liriomyza (blog.daum.net)

Pengaruh faktor abiotik. Seperti halnya serangga dan organisme pada umumnya, kehidupan lalat pengorok sangat dipengaruhi oleh faktor abiotik. Misalnya, pemupukan nitrogen yang berlebihan pada tanaman akan merangsang lalat pengorok untuk datang pada tanaman, menyerang, dan berkembang biak dengan lebih baik. Beberapa penelitian juga membuktikan bahwa lalat pengorok ini menunjukkan gejala tahan (resisten) terhadap insektisida. Mereka diduga telah resisten terhadap insektisida golongan hidroklorin, organofosfat, karbamat, dan piretroid. Bahkan, insektisida bifentrin yang digunakan dalam jangka waktu yang cukup singkat sudah mampu memicu berkembangnya koloni lalat pengorok yang lebih tahan daripada tetuanya. Luar biasa!

Musuh alami. Musuh alami lalat pengorok cukup banyak. Misalnya, L. trifolii tercatat mempunyai musuh alami berupa parasitoid dari famili tawon Braconidae, Pteromalidae, dan Eulopidae. Di Indonesia, tercatat 19 jenis parasitoid berasosiasi dengan L. sativae dan enam jenis parasitoid berasosiasi dengan L. huidobrensis.

Larva Liriomyza di dalam lubang korokan (eppo.int)

Catatan: Versi komplit dapat Anda baca di majalah SERANGGA edisi bulan Mei 2011. Silakan tilik di halaman pemesanan untuk melakukan pemesanan edisi tersebut.

Majalah SERANGGA versi E-magazine terbit!

In Promosi, Rupa-rupa on April 6, 2012 at 2:45 pm

Atas permintaan dari teman-teman, maka kami akan menjual majalah SERANGGA dalam bentuk E-magazine (versi PDF). Sampai saat ini, kami sudah menyiapkan lima edisi, yaitu November 2010, Januari 2011, April 2011,  Mei 2011, dan Juli 201, yang dapat Anda peroleh dengan harga hanya Rp. 12.000 per edisi.

Jika Anda adalah seorang yang sangat aktif dan dinamis, maka E-magazine ini bisa menjadi pilihan tepat untuk menemani kegiatan Anda. Dukungan beragam gadget seperti tablet dan netbook tentunya akan mempermudah Anda untuk mengakses E-magazine ini.

Peminat dapat membeli produk E-magazine Majalah SERANGGA dengan cara mengirimkan info Nama lengkap#Alamat lengkap#Alamat E-mail#Nomor HP#Edisi yang diinginkan melalui:

  • HP: 085325695577 atau 085228870594
  • Pin BB: 21C38CAD
  • E-mail: majalahserangga@gmail.com

Ayo, lengkapi koleksi E-magazine Anda dengan Majalah SERANGGA!

Ulat api: Indah tetapi berbahaya!

In Rupa-rupa on March 25, 2012 at 1:29 pm

Jika Anda melihat gambar di bawah ini, maka beberapa dari Anda akan menebak, bahwa inilah Ulat Api! Sesuai dengan namanya, ulat ini sanggup mengakibatkan luka pada kulit yang berasa panas, mirip sensasi terjilat api. Di beberapa negara, misalnya Indonesia, ulat api dikenal sebagai serangga ‘hama’, terutama pada tanaman perkebunan, misalnya kelapa, kelapa sawit, beberapa tanaman buah-buahan (rambutan, mangga, dan sebagainya). Dan, ulat ini ditakuti pula karena dampak sengatannya tersebut. Bagaimana tidak, ulat yang lebih menyukai bagian bawah daun ini sering tidak terlihat dari atas, apalagi beberapa spesies berwarna hijau, mirip warna daun. Dan begitu tangan mencoba untuk meraih buah-buah di antara daun-daun tersebut, maka kemungkinan kulit kita bersentuhan dengan duri-duri beracun ulat ini sangat besar.

Larva Parasa lepida (fact-foundation.com)

Larva Parasa lepida (fact-foundation.com)

Ulat api termasuk ke dalam famili Limacodidae, ordo Lepidoptera (bangsa ngengat). Ulat ini ‘tidak berkaki’ atau apoda, meskipun jika diperhatikan dengan lebih jeli, di bagian ventral tubuhnya terdapat bangunan mirip mangkuk pengisap. Salah satu genus ulat api, yaitu Chalcocelis bertubuh mirip buah kolang-kaling, tanpa satupun duri beracun, berwarna putih kehijau-hijauan, dan tidak berkaki. Itulah sebabnya, genus ini disebut secara umum sebagai Ulat Kolang-kaling. Pupa ulat api berbentuk bulat mirip telur, berwarna coklat tua, dan bertekstur agak keras, dan melekat pada daun. Ngengat berwarna coklat kusam.

Ulat Kolang-kaling (flickriver.com)

Kokon ulat api (backbeyondthent.blogspot.com)

Ngengat Euclea delphinii (americaninsects.net)

Duri ulat api ternyata cukup ampuh menahan serangan dari musuh alami di alam. Beberapa spesies ulat api, misalnya Acharea stimulea sanggup menahan serangan tawon predator Polistes dan beberapa upaya parasitasi oleh beberapa jenis parasitoid. Namun, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa musuh alami yang paling potensial di alam adalah patogen, yang tentunya tidak terpengaruh oleh ada tidaknya duri beracun pada tubuhnya bukan?

Keberadaan beberapa jenis patogen di alam dimanfaatkan oleh para petani untuk mengendalikan ulat api, di samping tentu saja predator berukuran besar, misalnya burung pemakan serangga (insektivora).

Bahasan lebih lengkap dapat diikuti di majalahnya. Selamat menikmati.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 60 other followers